Oleh: Rahmat Hidayat (LTNU Deli Serdang)
Di tengah gelombang zaman yang kian deras membawa arus nilai-nilai asing, ada sebuah tanya yang seharusnya menggugah sanubari setiap kader Nahdlatul Ulama (NU): sudahkah kita menyemai masa depan anak-anak kita di lahan yang sesuai dengan akar ideologis perjuangan kita sendiri?
Kita hidup di era penuh tantangan. Dunia digital menawarkan informasi tak berfilter; nilai-nilai sekuler bahkan radikal bisa menyusup lewat gawai dalam genggaman. Sementara itu, identitas keislaman yang moderat, toleran, dan rahmatan lil 'alamin justru mulai terpinggirkan oleh narasi-narasi ekstrem dan kaku yang tidak mencerminkan wajah asli Islam Nusantara. Inilah tantangan besar yang menanti generasi mendatang generasi anak-anak kita.
Sekolah NU, Ladang Subur Menanam Nilai Aswaja Pada Generasi Kita.
Sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama bukan hanya tempat belajar menghafal rumus dan teori, tetapi juga tempat menyemai akhlak, adab, dan kecintaan terhadap warisan Islam Ahlussunnah wal Jamaah an- Nahdliyah sekaligus kecintaan pada Negara. Lembaga pendidikan bernafaskan NU di wilayah Sumatera Utara terkhusus di kabupaten Deli Serdang sudah mulai banyak seperti SMP NU yang langsung di kelola oleh Ma'arif PCNU Deli Serdang dan beberapa titik lainnya yang dikelola secara mandiri oleh kader NU. Ada juga SDIT, Madrasah Diniyah, RA, MI, MTs, MA. Tak cuma itu, di Deli Serdang juga terdapat pondok pesantren yang bernafaskan NU seperti Pondok Pesantren Nurul Hikamah An Nahdly di kecamatan Batang Kuis ,Al Qomariyah di kecamatan Galang dan beberapa pondok pesantren lainnya bahkan ada perguruan tinggi seperti Universitas Nahdhatul Ulama Sumatera Utara yang dirancang untuk membentuk pribadi yang berilmu dan beradab.
Mengapa kita, para kader NU, harus berpaling ke lembaga pendidikan lain, padahal kita memiliki sistem yang lahir dari rahim para ulama kita sendiri?
Bukankah lebih baik menyekolahkan anak kita di sekolah yang mengajarkan tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i'tidal (adil), serta mengenalkan mereka sejak dini kepada tokoh-tokoh ulama seperti Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahid Hasyim, dan KH. Abdurrahman Wahid?
Mencegah Krisis Identitas Keagamaan
Fenomena hari ini menunjukkan banyak anak muda Islam yang kehilangan arah dan jati diri keislamannya. Ada yang terlalu liberal hingga melunturkan adab, ada pula yang terjebak dalam paham radikal atas nama purifikasi ajaran. Krisis identitas keagamaan ini tidak lahir dalam semalam, tapi merupakan buah dari pendidikan yang tidak menyatu dengan nilai-nilai turats (tradisi keilmuan) Islam yang kuat dan kontekstual seperti yang diwariskan para ulama NU.
Maka, pendidikan berbasis Aswaja adalah benteng utama dalam menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian ini. Dan siapa lagi yang bisa memulainya kalau bukan kita para kader NU?
Menjadikan Anak Investasi Abadi
Dalam banyak kesempatan, para ulama menegaskan bahwa salah satu amal yang tak pernah putus adalah anak saleh yang mendoakan orang tuanya. Tapi anak saleh tidak tumbuh begitu saja; ia harus dipupuk dalam lingkungan yang tepat — lingkungan yang membentuk tauhidnya lurus, ibadahnya terjaga, akhlaknya mulia, dan cintanya kepada ulama serta tanah air tumbuh kuat.
Sekolah berfahamkan NU menawarkan lebih dari sekadar ijazah. Ia menawarkan faham keagamaan yang membumi, penguatan karakter kebangsaan, dan kecintaan terhadap ulama pewaris nabi. Menyekolahkan anak ke sekolah NU adalah bentuk investasi abadi, bukan hanya untuk dunia, tetapi untuk akhirat.
Menjaga Amanah Ulama Pendiri
Kita tidak boleh melupakan amanah besar para pendiri NU. Mereka tidak hanya mendirikan organisasi sosial keagamaan, tapi juga merancang peradaban. Mereka sadar bahwa keberlangsungan dakwah Aswaja harus dimulai dari pendidikan. Maka mereka bangun madrasah, pesantren, dan lembaga pendidikan tinggi. Ini adalah warisan yang seharusnya kita jaga dan rawat, bukan kita abaikan.
Ketika kita sebagai kader NU justru menyekolahkan anak ke lembaga yang jauh dari semangat Aswaja, maka secara tak langsung kita ikut meluruhkan apa yang telah dibangun dengan darah dan keringat oleh para ulama terdahulu.
Akhirnya: Seruan Hati untuk Sesama Kader
Tulisan ini bukan bentuk penghakiman, tapi seruan hati. Mari kita luruskan niat dan arah. Mari kembali kepada rumah besar kita, NU. Mulailah dari anak-anak kita. Didiklah mereka di bawah bendera yang sama dengan jalan hidup perjuangan kita. Jadikan mereka generasi penerus NU yang tidak hanya tahu mana yang benar, tapi juga tahu bagaimana bersikap benar dalam masyarakat yang beragam.
Mari bersama-sama kita kuatkan sekolah-sekolah NU tidak hanya dengan dana, tetapi juga dengan kepercayaan. Karena sekolah NU tidak akan kuat tanpa anak-anak kita di dalamnya. Dan NU tidak akan kokoh tanpa generasi penerus yang paham nilai-nilai Aswaja sejak usia dini.
NU kuat dimulai dari keluarga kita. Sekolah NU, pilihan kita. Untuk masa depan anak, untuk kelestarian Aswaja, dan untuk kejayaan Islam Nusantara.

0 Komentar