Ticker

6/recent/ticker-posts

Iklan

Responsive Advertisement

Menguak Fakta Terusirnya Siswa SMPN2 Galang dari Rumahnya Sendiri.

Bagian I

Sebuah catatan kaki : menguak Fakta Terusirnya Siswa SMPN2 Galang, dari Rumahnya Sendiri.

Hari ini Ratusan siswa SMP Negeri 2 Galang akhirnya bisa tersenyum kembali . Setelah mereka mendapat kepastian bisa bersekolah di gedung milik mereka sendiri. Dimana  sebelumnya mereka terlantar akibat  titah kebijakan seorang pejabat di daerah yang mengusir anak kandungnya sendiri dari rumahnya dengan dalih relokasi yang mencoreng Marwah dunia pendidikan di kabupaten Deli Serdang.  Padahal kita sempat memiliki konsep pendidikan yang luar biasa bernama Deli Serdang  CERDAS.

‎Ekspresi haru yang dibarengi derai air mata kebahagiaan tak terbendung mengalir di pipi mereka. Teriakan histeris memecah kerumunan siswa dan wali murid yang sudah datang sejak pagi untuk menunggu kabar baik buat mereka. 

‎Mereka berharap di tangan Bupati Deli Serdang yang Baru ini nantinya para siswa  akan diajak pulang kerumah mereka sendiri yang dibangun oleh bapak mereka sendiri yaitu pemerintah kabupaten Deli Serdang.

‎Miris... Bak sebuah sinetron drama berjudul TERUSIR DARI RUMAH SENDIRI, itulah yang dialami oleh siswa SMPN2 Galang hampir dua tahun lamanya.

‎Menurut keterangan dari seorang warga petumbukan yang merupakan Alumni sekolah tersebut , justru sejak tahun 1990 situasi kegiatan belajar mengajar di SMPN2 Galang  tenang tenang saja , tidak ada masalah  antara siswa maupun wali SMPN 2 Galang dengan pihak alwasliyah, karena diantar mereka ada yang masih memiliki hubungan keluarga, pertemanan dan lain lain.

‎"Bahkan dulu kami sering interaksi dengan murid Alwasliyah bang, baris dan pawai pun kami pernah bareng sama  Alwasliyah " ucapnya mengulang memori .

‎Sambil berkipas dengan selembar sobekan kerdus air mineral, tampak raut wajahnya sangat berharap memori indah tahun 90an itu bisa terulang kembali.

‎"Kami pun heran bang, kok bisa lah sekitar bulan Desember tahun 2023 tiba tiba siswa disuruh keluar dari gedung SMPN2 Galang, kaget kami bang Sumpah, padahal kami kan siswa Pemerintah kok malah disuruh keluar sama pemerintah, padahal sebelumnya gak ada masalah " ucapnya menjelaskan kronologis awal mula kisruh tersebut.

‎Cerita itu bukan pepesan kosong tanpa makna. Surat yang dimaksud adalah surat yang dikeluarkan oleh dinas pendidikan kabupaten Deli Serdang nomor 800/9665/ PSMP/2023 tertanggal 21 Desember 2023 prihal Relokasi UPT SF SMP Negri 2 Galang

‎Jika kita merujuk pada bulan Desember tahun 2023 , saat itu adalah tahun politik pilkada serentak di Deli Serdang yang menjadi agenda nasional pula . Deli Serdang akan memilih pemimpin baru. Publik yang memiliki sudut pandang politik, pasti akan menilai dari kacamata politik pula. Betapa tidak,  Alwasliyah memiliki potensial suara yang luar di kecamatan Galang terutama di desa petumbukan dan beberapa kecamatan lainnya. Publik menduga dan bertanya apakah gedung SMPN2 Galang menjadi alat barter politik untuk kepentingan perolehan suara jabatan calon kepala daerah tertentu? Atau ini hanya sebuah kebetulan? Karena saat itu oknum pejabat kepala Daerah Deli Serdang saat itu di gadang gadang akan itu maju dalam kontestasi pilkada serentak 2024. Tapi bisa saja dugaan itu salah, tergantung dari sudut pandang mana kita melihat.

‎Belum selesai sakit akibat surat tersebut,  Dinas Pendidikan kembali membuat surat pinjam pakai gedung SMPN2 Galang Tertanggal 24 Juni 2024 untuk dipergunakan pihak Alwasliyah. 

‎Bak petir di siang hari, kabar tersebut terdengar begitu mengagetkan dan menyakitkan siswa serta wali murid SMPN2 Galang. 

‎"Sebenarnya kami anak siapa?"  Mungkin itu pertanyaan dalam hati mereka. Namun namanya juga anak, teriakan mereka terbatas,. Secara psikologis mau melawan takut di bentak.

‎Akhirnya mereka benar benar terusir dari rumah mereka sendiri dan terkatung katung bak gelandangan.

‎Mereka hanya menunduk, tak berani mengangkat kepala dihadapan banyak orang karena menahan malu harus terusir dari rumah sendiri tempat mereka berlindung dan menuntut ilmu.

‎Hampir dua tahun murid SMPN2 Galang berpindah pindah tanpa kepastian. Selama dua tahun itu pula ejekan dan hinaan mereka dapat.

‎"Punya sekolah gak punya gedung" sebut seorang siswi memperagakan ucapan saat dirinya di ejek.

‎2023 sampai 2025 adalah tahun yang benar benar berat untuk  mereka lewati, tapi mereka yakin, pasti Tuhan mendengarkan doa mereka.

‎Aroma dugaan penggiringan balas jasa dukungan pilkada tercium, namun publik di bungkam dengan bahasa kebijakan. Agar jika terpilih nanti nya , gedung SMPN2 Galang tersebut dapat mulus berpindah tangan. 

‎Padahal di masa jabatan Kepala daerah dan kepala dinas pendidikan terdahulu, tidak pernah terjadi cerita pinjam pakai,  namun saat Deli Serdang dipimpin oknum pejabat yang baru dilantik pada November tahun 2023, tapi tanggal 21  Desember ada surat perintah untuk relokasi dari dinas pendidikan kabupaten Deli Serdang yang bertepatan dengan tahun politik. Jadi sangat wajar jika sebagian orang berpandangan bahwa relokasi dan pinjam pakai gedung SMPN2 Galang adalah bagian dari deal dealan politik.

‎Pasca pilkada serentak 2024, Deli Serdang memiliki pemimpin Baru. Saat itu secercah harapan baru pun muncul pada siswa dan wali murid SMPN 2 Galang.

‎Deli Serdang yang di nahkodai oleh Bupati terpilih yaitu dr. Asri Luddin Tambunan dan Wakil Bupati Lom Lom Suwondo tak tinggal diam. "Anak anak harus dijemput pulang kerumah" pesan ini sangat mendalam dari orang tua yang tak ingin anaknya terlantar ,padahal punya rumah sendiri. Walau tak semegah istana , tapi disini rumah kita, SMP Negri 2 Galang.

‎Bupati  melakukan pembatalan pinjam pakai bukan karena sekedar permasalahan tempat, tapi ada regulasi yang harus dilaksanakan untuk menyelamatkan aspek hukum dan yang paling penting adalah ini masalah  Marwah Pemerintah Daerah.

‎Tindakan tegas Bupati tersebut membuat  gempa yang cukup hebat, menimbulkan kepanikan yang luar biasa terhadap orang yang menempati gedung SMPN2 yg Galang tersebut.

‎Mereka merasa terzolimi atas sikap tegas Bupati yang dianggap mengingkari   surat wasiat peninggalan raja sebelumnya yang berujung pada aksi unjuk rasa di depan kantor bupati Deli Serdang.

‎Narasi dibuat, framing dibangun seolah Bupati Zholim,. padahal mereka tau  bahwa ada ratusan siswa SMPN2 Galang yang terlunta lunta bak gelandangan selama dua tahun akibat  salah kebijakan dari pemimpin yang hanya menjabat sesaat tapi membuat kebijakan sesat tanpa memikirkan nasib rakyat.

‎Dalam gempuran narasi itu, Pemkab tetap tenang. Bupati mengambil jalan tengah: Gedung akan diserahkan kepada Alwashliyah di kemudian hari, tapi untuk sementara harus dikosongkan. Ini bukan soal menang atau kalah, tapi menghindari kecemburuan dan memastikan tidak ada konflik antar pelajar berkelanjutan. maka pada Minggu 13 Juli 2024, dinas pendidikan Deli Serdang bersama pihak alwasliyah melakukan penyegelan bersama. Namun lagi lagi hal itu digiring oleh pihak pihak tak bertanggung jawab . Mereka menyatakan Bupati Menyegel sekolah.

‎Di tengah panasnya situasi,  oknum ketua DPRD muncul ke lokasi. Ia tampil bak pahlawan dalam narasi politik.  Sayangnya, alih-alih menenangkan, kehadirannya justru memperkeruh suasana. Narasi makin liar. Media sosial gaduh. Opini publik terbelah. "Kemana dia selama ini, dua tahun kami terlantar dia kemana?" tanya wali murid dengan nada marah.

‎Namun hari ini, semua menemukan ujungnya.

‎Kehadiran Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution bersama wakil bupati Deli Serdang, di Patumbukan Galang pagi tadi menjadi penanda penting. Di tengah riuh tangis bahagia dan haru siswa SMPN 2 Galang, Bobby datang bukan sebagai pejabat formal, tapi sebagai abang, kakak, dan orang tua yang turut peduli atas masa depan pendidikan anak-anak Deli Serdang.

‎Ia disambut dengan antusias. Sejumlah siswa menangis saat menyalaminya. Warga pun menyambutnya dengan doa dan harapan. Bobby tak banyak berorasi. Hanya satu kalimatnya yang menggema:

‎"Jangan ada lagi anak-anak yang jadi korban dari sebuah kebijakan "

‎ini, bukan hanya tentang dikembalikannya gedung. Tapi tentang dikembalikannya harapan siswa SMPN2 negri 2 galang. Tentang keyakinan bahwa negara masih ada untuk anak-anaknya. Tentang seorang bupati yang berani melawan arus demi menyelamatkan masa depan, dan tentang kolaborasi serta solidaritas yang hadir dari sosok muda bernama Bobby Nasution. (RHy)

Posting Komentar

0 Komentar